Tukar Guling Saham, Anthoni Salim dan Mochtar Riady Pisah Ranjang di BCA dan Lippo Bank

Redaksi

Anthoni Salim dan Mochtar Riady

Jakarta, URBVOX – Grup Salim dan Lippo Group, dua konglomerasi yang konon anggota 9 naga pernah bermitra erat pada dekade 1990-an, sebelum keduanya memutuskan “pisah ranjang”. Mochtar Riady melepas sahamnya di BCA, sementara Anthoni Salim menarik diri dari Lippo Bank.

Grup Salim yang dinakhodai Anthoni, kala itu masih mengendalikan bank swasta terbesar di Indonesia, Bank Central Asia (BCA). Begitu pula dengan Grup Lippo yang dipimpin Mochtar Riady, masih memiliki Lippo Bank.

BCA, seperti diketahui, kini berada di bawah Grup Djarum, sedangkan Lippo Bank dengan sejarah panjang dan gonta-ganti kepemilikan telah lama bersalin nama menjadi Bank CIMB Niaga (BNGA). Pada masanya, Anthoni Salim pernah duduk di kursi komisaris Lippo Bank dengan kepemilikan saham mencapai 1,5 miliar lembar atau 3,16 persen. Sedangkan Salim juga mengantongi kepemilikan di proyek-proyek properti Lippo.

Pengunduran Diri dan Pembagian Saham

Awal Mei 1992, keduanya memutuskan untuk fokus ke bisnis keluarga masing-masing, sehingga saling melepas kepemilikan di dua konglomerasi tersebut.

Harian Bisnis Indonesia edisi Rabu 6 Mei 1992, menyoroti mundurnya Anthoni dari kursi komisaris Lippo Bank yang mengawali langkahnya melepas kepemilikan di bank tersebut.

Mundurnya Anthoni dari kursi komisaris diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sehari sebelumnya, Selasa, 5 Mei 1992. Ketika berita itu diturunkan, Direktur Lippo Bank ketika itu, Laksamana Sukardi mengatakan langkah itu tidak mempengaruhi posisi kepemilikan taipan itu di Lippo Bank.

Adapun, selain pengunduran diri komisaris, RUPS Lippo Bank ketika itu juga memutuskan untuk memnagi saham bonus dan dividen tunai senilai Rp110 atau naik 10 persen dari tahun 1990 sebesar Rp100 per saham. Kenaikan dividen itu berkaitan dengan peningkatan laba bersih per saham dari Rp390 menjadi Rp466 pada akhir 1991.

Selain Anthoni, jajaran komisaris Lippo Bank kala itu diisi oleh nama-nama seperti RM Koesmoeljono, Toto Bachrie, James Riady, dan Roy E. Tirtadji.

Proses Tukar Guling

Menurut penelusuran Bisnis, ketika itu, Lippoland sudah mengumumkan penjualan 20 persen sahamnya di Wisma BCA kepada Sudono Salim. Dengan demikian, keluarga Liem Sioe Liong alias Sudono, kembali menguasai 100 persen saham Wisma BCA, dulunya kantor pusat yang berlokasi di Jalan Sudirman, Jakarta.

Menukil buku Bank BCA, Sejarah Bank Besar yang Terus Diperebutkan Pemilik Modal (Pusat Data dan Analisa Tempo), dari hasil penjualan itu, Lippoland mengantongi Rp20,8 miliar.

Sebelum itu, saham Mochtar Riady di BCA sebesar 3,5 persen juga sudah dilego dan dibeli keluarga Leim. Tidak tertutup kemungkinan penjualan itu dilakukan melalui tukar tambah dengan saham keluarga Liem di Lippo Bank dengan total 10,53 persen.

Sementara itu, Mochtar, pemegang saham BCA senilai total Rp10,5 miliar juga mengundurkan diri dari jajaran manajemen maupun komisaris BCA. Dengan demikian, tidak ada lagi pertalian khusus antara BCA dan Lippo Bank.

Mochtar, kala itu dikabarkan ingin berkonsentrasi pada Lippo Group. Demikian pula Anthoni yang hendak mencurahkan perhatiannya ke Salim Group. Presiden Direktur BCA kala itu Abdulla Ali mengatakan antara Anthoni dan Mochtar tidak ada perselisihan apa pun.

Putusnya kerja sama di bidang keuangan, tak berarti hubungan kedua grup itu di bidang lain juga berakhir. Lippo, misalnya, masih mengantongi saham Indomobil dan Pantai Indah Kapuk.

Keputusan itu tampaknya ditentukan oleh para profesional Lippoland dan merupakan bagian dari proses pelembagaan manajemen Lippo Group, yang ditandai dengan mundurnya para pemilik saham secara pertahap dari pengelolaan sehari-hari.

Perkembangan Terkini

Setelah masa-masa tersebut, kedua konglomerasi itu masih tegak berdiri melewati badai krisis moneter 1998, krisis finansial Asia 2008, hingga pandemi Covid-19. Anthoni dan Mochtar terus mengukuhkan posisinya di jajaran konglomerat teratas negeri ini.

Menurut Forbes Real Time Billionaire Index, Rabu (6/5/2026), Anthoni kini mengantongi harta bersih US$11,7 miliar dan duduk di posisi ke-4 terkaya di Indonesia. Sedangkan Mochtar Riady berada di urutan ke-21 dengan mengantongi kekayaan bersih US$2 miliar.

Teranyar di bisnis perbankan, Salim memiliki PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) setelah lama kehilangan BCA yang kini berada di bawah bendera Grup Djarum. Sedangkan Lippo, juga harus melepas Lippo Bank pascakrisis moneter 1998, dan kini mengendalikan PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU).

Hot Nows ionicons-v5-c