Jakarta, URBVOX – Grup Lippo asuhan konglomerat Mochtar Riady pernah hendak menyelamatkan Monte de Piedad and Savings Bank, ketika pemberi pinjaman asal Filipina itu berada di gigir kebangkrutan pada 1997.
Tak disangka, Lippo yang tadinya hendak menyiapkan sekoci, harus kehilangan lengan bisnis perbankannya yang runtuh diterjang krisis moneter.
Profil Monte de Piedad
Monte de Piedad and Savings Bank, salah satu bank tertua Filipina, tengah menghadapi masalah serius ketika itu. Mengutip laman Bisnis.com, para nasabah terdiri atas pengemudi becak, guru, dan usaha kecil di bawah program Gereja, terlibat kredit macet dengan total pinjaman mencapai 1,8 miliar peso.
Lippo yang saat itu masih menjalankan Bank Lippo, muncul sebagai penawar potensial Monte de Piedad. Bank Lippo adalah titik awal berdirinya imperium bisnis di bawah tangan dingin Mochtar. Setelah sekian lama menukangi Bank Central Asia (BCA) yang saat itu masih berada di kantong Grup Salim, Mochtar mengakuisisi Bank Perniagaan Indonesia (BPI) pada 1981.
Setelah meninggalkan BCA, Mochtar membentuk Bank Lippo dengan menggabungkan BPI, Bank Bhumi Bahari, dan Bank Umum Asia. Barulah setelah Bank Lippo tegak berdiri dan menjadi pemberi pinjaman terbesar ketiga di Indonesia, Mochtar memutuskan masuk ke sektor properti pada 1990.
Rencana Akuisisi
Halaman utama Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis, 1 Mei 1997, menyoroti rencana masuknya Mochtar Riady ke industri perbankan Filipina.
Gubernur Bank Sentral Filipina kala itu, Gabriel Singson menyatakan Lippo telah mengalokasikan dana sedikitnya 1 miliar peso atau US$38,5 juta untuk menyelamatkan bank tersebut dari krisis keuangan.

“Manajemen Lippo menawarkan upaya menyelamatkan bank asal Filipina itu melalui penyuntikan dana ssegar,” katanya dalam sebuah pernyataan resmi.
Singson juga mengatakan bahwa dia telah memberikan batas waktu kepada pemegang saham mayoritas Vicente Tan hingga Kamis (1/5/1997) untuk menentukan sikapnya atas tawaran Lippo. Jika Tan memutuskan tak menerima pinangan Lippo, maka bank sentral Filipina akan menawarkan likuiditas kepada Monte de Piedad melalui perusahaan asuransi deposit Filipina.
Menurutnya, Lippo telah memberi jaminan penyelamatan kepada bank Filipina itu, dan telah menetapkan tenggat bahwa Monte de Piedad akan bisa menjalankan bisnisnya lagi mulai 8 Mei 1997.
Ekspansi Regional
Sebelumnya, Grup Lippo melalui Bank Lippo juga menrencanakan ekspansi usaha ke Kamboja dengan membuka kantor cabang di Phom Phen. “Kami bisa membuka kantor cabang di Phom Phen dengan kepemilikan 100 persen,” ujar Bangga S. Widjaja, Perwakilan Bank Lippo di Phom Phen ketika itu.
Perlu digarisbawahi bahwa pada 1990-an, Grup Lippo memang aktif melancarkan akuisisi regional. Monte de Piedad dibidik untuk melengkapi portofolio perbankan ritel di kawasan.
Rencana Kandas Diterjang Krisis
Baik rencana akuisisi Monte de Piedad maupun pembukaan kantor cabang di Phom Phen, harus kandas diterjang krisis. Monte de Piedad tidak pernah masuk genggaman Mochtar Riadi. Sebab momentumnya kala itu bertepatan dengan puncak krisis keuangan Asia 1997. Di Indonesia, krisis moneter juga meruntuhkan banyak bisnis dan konglomerasi.
Krisis ini secara signifikan mengurangi kapasitas akuisisi banyak konglomerat di kawasan karena kekurangan likuiditas, penurunan nilai properti, dan jatuhnya pasar saham. Bank sentral Filipina akhirnya menengahi kesepakatan yang menyebabkan Grup Keppel asal Singapura mengambil alih bank tersebut.
Setelah akuisisi oleh Keppel, bank itu berganti nama menjadi Keppel Monte Bank, sebelum kemudian diakuisisi oleh General Electric Co. pada 2005.
Nasib Bank Lippo Pascakrisis
Grup Lippo sendiri pada saat itu harus rela kehilangan Bank Lippo dengan melepas saham mayoritasnya kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Meski demikian, selama beberapa tahun setelahnya, Mochtar masih duduk sebagai presiden komisaris.
Setelah menjadi asuhan BPPN, Bank Lippo masuk bidikan beberapa konsorsium asing pada rentang 2003 hingga 2004. Ada tiga konsorsium yang saat itu melakukan penawaran untuk mengakuisisi 52,05 persen saham Bank Lippo di kantong pemerintah, yakni Euro Capital Peregrine Securities, Platinum Securities Ltd, dan Triton Advisory Pte Ltd.
Dari ketiga konsorsium itu, Triton yang tampak paling unggul, terdiri atas Swissfirst Bank AG, Swissfirst Opportunities, Anlagegesellschaft VP Venture Limited, Matrix Capital Partners, Ferrel Opportunity Capital Ltd, dan Swissasia Global.
Namun sayangnya, BPPN menyatakan proses divestasi 52,05 persen saham Bank Lippo tanpa pemenang karena penawaran yang diajukan jauh di bawah harga dasar Rp591 per lembar.
Platinum menawar Rp315 per lembar, Eurocapital Rp320 per lembar, dan Triton Rp345 per lembar. Selain itu, tiga konsorsium penawar juga dinyatakan tidak sebanding dengan bank yang akan didivestasi.
Bank Lippo akhirnya memasuki babak lain kepemilikannya ketika pada Februari 2004 pemerintah resmi menyelesaikan proses divestasi 52,05 persen sahamnya ke konsorsium Swissasia Global.
Tidak lama berada mengenggam saham Bank Lippo, konsorsium tersebut melepas seluruh kepemilikannya ke Khazanah Nasional Berhad, melalui Santubong Investments BV. Di bawah Khazanah, Bank Lippo dimerger dengan Bank Niaga pada 2008 dan hingga kini dikenal sebagai PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA).


