Trump Klaim Militer AS Kuasai Selat Hormuz dan Sukses Kirim Lebih dari 100 Juta Barel Minyak

Redaksi

Donald Trump

Jakarta, URBVOX – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah membantu sekitar 200 kapal komersial serta lebih dari 100 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz secara rahasia di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Pernyataan ini disampaikan Trump melalui akun Truth Socialnya pada Rabu (10/6/2026) waktu setempat. Ia mengklaim keberhasilan tersebut terjadi karena AS berhasil merebut kendali Selat Hormuz dari Iran.

“Militer mereka telah kalah, dan ekonomi mereka hancur,” ujar Trump dikutip dari CNBC International, Kamis (11/6/2026).

Trump juga menyampaikan hal serupa saat berbicara dengan wartawan di Ruang Oval Gedung Putih. Menurutnya, keberhasilan pengiriman minyak secara diam-diam ini ikut menjaga harga minyak dunia tetap stabil di kisaran US$200 per barel.

Kondisi Lalu Lintas di Selat Hormuz

Meski demikian, volume lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh lebih rendah dibandingkan sebelum terjadinya konflik. Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menyatakan bahwa dunia masih kehilangan pasokan minyak dalam volume signifikan setiap harinya akibat terganggunya jalur perdagangan strategis tersebut.

Sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, sekitar 20% pasokan minyak global atau setara 20 juta barel per hari melewati Selat Hormuz. Arus kapal kemudian merosot tajam setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap kapal-kapal niaga dan menebar ranjau di perairan tersebut. Penutupan efektif Selat Hormuz menyebabkan hilangnya lebih dari 1 miliar barel pasokan minyak, yang merupakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Estimasi Volume Minyak yang Masih Mengalir

JPMorgan pekan lalu memperkirakan volume minyak yang berhasil melewati Selat Hormuz lebih besar daripada yang terpantau publik. Bank investasi tersebut memperkirakan sekitar 2 juta barel per hari diangkut menggunakan kapal tanker yang mematikan sistem pelacak atau transponder.

“Terlepas dari blokade laut yang masih berlangsung dan penurunan tajam lalu lintas komersial, volume minyak mentah dan produk petroleum yang melintasi Selat Hormuz tampaknya masih cukup besar,” tulis analis JPMorgan dalam riset tertanggal 4 Juni 2026.

Operasi AS dan Pernyataan Pejabat

Pada Mei lalu, Trump sempat mengumumkan operasi bernama Project Freedom untuk mengawal kapal tanker yang terjebak di Teluk Persia. Namun, misi tersebut dihentikan secara mendadak. Setelah itu, sejumlah pejabat AS mengindikasikan bahwa Angkatan Laut AS secara diam-diam membantu kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, meski tanpa mengungkapkan skala operasinya.

Seorang pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa militer AS tidak melakukan pengawalan langsung terhadap kapal-kapal tersebut. Namun, militer memberikan komunikasi dan koordinasi kepada kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz dengan aman. Komando Pusat AS (CENTCOM) sebelumnya menyatakan bahwa militer AS memberikan perlindungan terhadap kapal-kapal dari ancaman serangan.

Respons AS terhadap Serangan Iran

CENTCOM menyebut bentrokan antara AS dan Iran pekan lalu bermula ketika Teheran meluncurkan drone ke arah “pelaut sipil yang secara sah melintasi perairan kawasan.” Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengonfirmasi kepada Kongres bahwa Washington merespons serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial.

Rubio menilai drone Iran tidak memiliki tingkat presisi yang tinggi sehingga berpotensi menghantam bagian mana pun dari kapal dan memicu bencana lingkungan.

“Jika mereka tidak menembaki kapal-kapal itu, kami tidak akan menembak. Namun, kami harus merespons ketika serangan terjadi,” kata Rubio dalam rapat dengar pendapat dengan Komite Hubungan Luar Negeri DPR AS.

Hot Nows ionicons-v5-c