Rupiah Menguat di Tengah Redanya Kekhawatiran Prospek Fiskal Indonesia

Redaksi

Nilai tukar rupiah

Jakarta, URBVOX – Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.941 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah terjadi seiring meredanya kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia. Melansir Antara, Josua menjelaskan bahwa berbagai faktor mendukung stabilitas mata uang domestik.

“Kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia mereda seiring pelemahan harga minyak global, sementara keputusan pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga BBM (Bahan Bakar Minyak) Pertamax turut mengurangi tekanan terhadap keseimbangan fiskal,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, perkembangan ini memperkuat ekspektasi bahwa defisit fiskal akan lebih terkendali, sehingga memberikan dukungan bagi rupiah dan pasar obligasi domestik. Rupiah juga terus mendapat manfaat dari transmisi kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan sehari sebelumnya, karena langkah tersebut meningkatkan daya tarik imbal hasil aset domestik.

Gambaran Inflasi Amerika Serikat

Dari sisi global, inflasi umum AS naik menjadi 4,2 persen year on year (yoy) pada Mei 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,8 persen yoy. Kenaikan ini menandai percepatan inflasi umum selama tiga bulan berturut-turut, terutama didorong lonjakan harga energi sebesar 23,5 persen yoy di tengah ketegangan yang berlanjut di Timur Tengah.

Kendati demikian, secara bulanan inflasi umum melambat menjadi 0,5 persen month on month (mom) dari 0,6 persen mom pada bulan sebelumnya, sesuai konsensus pasar. Sementara itu, inflasi inti hanya meningkat tipis menjadi 2,9 persen yoy dari 2,8 persen yoy. Secara bulanan, inflasi inti bahkan melambat menjadi 0,2 persen mom dari 0,4 persen mom, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,3 persen mom.

“Data tersebut mengindikasikan bahwa tekanan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga energi terhadap tingkat harga secara keseluruhan tidak sekuat yang sebelumnya dikhawatirkan. Oleh karena itu, investor sedikit mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun kenaikan suku bunga sebesar 25 bps (basis points) pada Desember 2026 masih fully priced in,” ungkap dia.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Hot Nows ionicons-v5-c