Jakarta, URBVOX – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter umum yang signifikan.
Berdasarkan perhitungan terbaru Kementerian Kesehatan, defisit dokter umum nasional saat ini mencapai sekitar 93.200 orang. Budi menyampaikan data tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (8/6/2026).
Proyeksi Kebutuhan Berbasis Data
Dilansir dari CNBC Indonesia, untuk pertama kalinya pemerintah telah menyusun proyeksi kebutuhan tenaga medis dan tenaga kesehatan secara nasional dengan pendekatan berbasis data yang ditarik dari 10 tahun ke belakang.
Perhitungan tersebut mempertimbangkan jumlah dokter yang ada saat ini, tingkat pensiun dan kematian, distribusi dokter antarwilayah, hingga perubahan pola penyakit masyarakat.
Data tersebut telah melalui proses verifikasi dan penyempurnaan bersama berbagai pihak, termasuk Konsil Kesehatan Indonesia, organisasi profesi, dan kolegium.
“Untuk dokter umum saja, gap-nya sekitar 93.200 dengan lulusan baru setahun kita sekitar 12.000 hingga 14.000,” kata Budi dalam kesempatan tersebut.
Bukan Sekadar Masalah Distribusi
Budi menegaskan bahwa persoalan utama layanan kesehatan nasional bukan hanya soal distribusi dokter, melainkan juga jumlah dokter yang memang masih belum mencukupi.
“Kita dengar selama ini masalahnya distribusi. Data yang kita miliki tidak demikian,” ujarnya.
Dengan jumlah kekurangan tersebut, pemerintah masih harus bekerja keras untuk mengejar defisit tenaga dokter yang terjadi di berbagai daerah.
Perubahan Demografi dan Pola Penyakit
Pemerintah juga menghitung kebutuhan dokter berdasarkan perubahan demografi dan epidemiologi masyarakat Indonesia. Seiring meningkatnya usia harapan hidup, pola penyakit yang dihadapi masyarakat turut berubah. J
ika sebelumnya Indonesia lebih banyak menghadapi penyakit infeksi, kini kasus penyakit degeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, hingga berbagai penyakit kronis lainnya semakin meningkat.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga kesehatan, termasuk dokter umum dan dokter spesialis, terus bertambah.
Peta Kebutuhan hingga Tingkat Daerah
Budi menambahkan bahwa pemerintah kini memiliki peta kebutuhan tenaga medis hingga tingkat kabupaten dan kota. Data tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pendidikan kedokteran dan penempatan tenaga kesehatan dalam beberapa tahun ke depan.
“Jadi sekarang kita sudah memiliki rencana supply and demand untuk setiap tenaga medis dalam 10 tahun ke depan sampai level kabupaten/kota,” kata Budi.
Ia berharap perencanaan berbasis data tersebut dapat membantu pemerintah mengatasi kekurangan tenaga kesehatan secara lebih terukur dan berkelanjutan.
Budi menekankan bahwa ketersediaan dokter menjadi faktor penting untuk mendukung transformasi sistem kesehatan nasional yang saat ini lebih menitikberatkan pada pelayanan primer dan pencegahan penyakit.






