Jakarta, URBVOX – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhir-akhir ini bukan lagi sekadar angka di papan bursa, melainkan ancaman nyata bagi daya beli masyarakat.
Berdasarkan laporan dari laman CNBC Indonesia, mata uang garuda kini telah menembus level psikologis baru, yakni bertengger di kisaran Rp18.095 per dolar AS.
Lonjakan ini menjadi alarm keras karena berpotensi memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari yang mengandalkan bahan baku impor.
Benarkah Defisit Anggaran Menjadi Pemicu Utama?
Di tengah kepanikan pasar, muncul spekulasi bahwa membengkaknya defisit fiskal atau anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) menjadi biang keladi melemahnya rupiah.
Banyak pihak khawatir bahwa rencana pelebaran defisit anggaran demi mendanai program-program pemerintah akan membuat investor asing tidak nyaman.
Namun, sebagaimana dikutip dari analisis Rektor Institut Teknologi dan Bisnis ASIA Malang Rita Santos di CNBC Indonesia, defisit fiskal sebenarnya bukan faktor tunggal, apalagi pemicu utama dari rontoknya nilai tukar rupiah saat ini.
Anggapan bahwa APBN kita dalam kondisi lampu merah dinilai terlalu terburu-buru, karena pengelolaan fiskal Indonesia sejauh ini masih berada dalam batas aman yang diatur undang-undang.
Sentimen Global Motor Utama Pelemahan Rupiah
Menurut informasi yang dilansir dalam artikel tersebut, tekanan berat yang dialami rupiah justru lebih banyak datang dari luar negeri, khususnya kebijakan moneter Amerika Serikat.
Bank Sentral AS (The Fed) hingga saat ini masih bersikap keras kepala untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).
Kebijakan AS ini diperparah oleh rilis data ketenagakerjaan mereka yang secara mengejutkan tampil sangat kuat. Kondisi tersebut seketika memupus harapan pasar akan adanya pemangkasan suku bunga global dalam waktu dekat.
Dampaknya, aliran modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia, dan berbondong-bondong kembali ke pasar Amerika Serikat yang menawarkan imbal hasil lebih menggiurkan.
Dampak Berantai yang Harus Diwaspadai
Meskipun fondasi fiskal dalam negeri dinyatakan masih kokoh, masyarakat tetap harus bersiap menghadapi efek domino dari tingginya mata uang dolar AS. Menurut penuturan para ekonom, ada beberapa dampak tidak langsung yang akan segera dirasakan di tingkat hilir:
Pertama, suku bunga kredit sulit turun, Bank Indonesia kemungkinan besar harus mempertahankan suku bunga tinggi demi menjaga daya tarik rupiah. Artinya, bagi masyarakat yang memiliki cicilan motor, mobil, atau KPR, bersiaplah menghadapi beban bunga yang tetap tinggi.
Kedua potensi inflasi barang impor makin besar. Mulai dari produk elektronik, kedelai, hingga bahan baku industri yang masih diimpor otomatis akan mengalami kenaikan harga karena biaya tebus menggunakan dolar yang semakin mahal.
Kesimpulannya, pelemahan rupiah saat ini merupakan imbas dari badai ekonomi global, bukan karena kegagalan manajemen kas negara. Kendati demikian, sinergi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah tetap menjadi kunci utama agar pelemahan ini tidak berlarut-larut hingga mencekik perekonomian masyarakat bawah.

