Efek Rupiah Melemah, Omzet Pedagang Pasar Pondok Labu Anjlok hingga 30 Persen

Redaksi

Pasar Pondok Labu

Jakarta, URBVOX – Suasana sepi menyelimuti Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Jumat sore. Aktivitas transaksi di pasar tradisional tersebut tampak membisu dan tidak banyak masyarakat yang datang untuk berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari.

Kondisi ini memaksa sejumlah pedagang menelan pil pahit akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang memicu lonjakan harga barang, penurunan daya beli, hingga merosotnya omzet harian secara drastis.

Salah satu pedagang sembako dari toko Cito Roso, Albani Nasran, mengungkapkan bahwa penurunan daya beli masyarakat kini terasa sangat signifikan.

Pria berusia 30 tahun tersebut menuturkan bahwa harga beberapa barang dagangannya naik tajam, terutama komoditas plastik yang melambung hingga 40 persen dari harga normal Rp10.000 menjadi Rp16.000 hingga Rp18.000 per pak.

Selain plastik, harga minyak goreng kemasan Minyakita juga melonjak menjadi Rp21.000 per liter dari harga sebelumnya Rp16.700 per liter, diikuti kenaikan harga minyak curah serta komoditas cabai merah keriting yang menyentuh Rp50.000 hingga Rp55.000 per kilogram, dan cabai rawit di kisaran Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

Melansir laporan dari Bloomberg Technoz, rentetan kenaikan harga tersebut menyebabkan omzet kotor harian toko Albani merosot sekitar 30 persen dengan jumlah pembeli yang menyusut hingga tersisa sekitar 50 orang per hari.

Saat ini, pendapatan kotornya berada di bawah Rp10 juta per hari, padahal sebelum meletusnya konflik geopolitik antara Iran dengan AS dan Israel di Timur Tengah, ia mampu mengantongi omzet belasan juta rupiah per hari.

“Sebelum Idul Adha, semenjak plastik naik, semuanya pasar sepi lah. Pas Idul Adha, kebetulan orang kebutuhan masak kan, di situ lah kita memanfaatkan itu, momen. Habis Idul Adha ya gini lagi,” kata Albani.

Ia pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga barang serta berharap konflik internasional dapat berakhir.

Pedagang Daging Keluhkan Program Makan Bergizi Gratis

Dampak buruk pelemahan rupiah juga dirasakan oleh Imam, seorang pedagang daging sapi yang telah menggelar lapaknya di Pasar Pondok Labu selama hampir dua dekade. Imam kini menjual daging sapi seharga Rp150.000 per kilogram dan iga sapi seharga Rp100.000 per kilogram.

Kenaikan harga daging sapi sebesar Rp10.000 dari harga sebelum Iduladha tersebut dinilai Imam terjadi akibat imbas pelemahan rupiah terhadap dolar AS serta pelaksanaan program domestik.

Imam secara terbuka meminta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk segera mencarikan solusi atas kondisi ekonomi ini. Pria berusia 42 tahun tersebut menilai bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memicu kenaikan harga komoditas dan meminta pemerintah untuk menghentikan program tersebut sementara waktu.

“Saran saya mah MBG stop dulu dah, itu ngaruh, dari mana MBG dananya kalau bukan dari pajak? Imbasnya kita. Larinya ke MBG, ya kita kena imbasnya, pasar,” ujar Imam.

Akibat situasi ini, volume penjualan daging sapinya menyusut dari yang biasanya mencapai 50 hingga 60 kilogram per hari menjadi hanya 30 kilogram per hari, sementara omzet kotornya anjlok dari minimal Rp6 juta per hari sebelum adanya program MBG kini menjadi hanya Rp2 juta per hari.

Impor Bahan Baku Plastik dan Respons Pemerintah

Di sisi lain, sektor perdagangan bahan baku kemasan juga ikut terdampak ketegangan global. Pemilik toko plastik bernama Amar Syadad menyebut omzet kotor hariannya mengalami penurunan akibat konflik bersenjata di Timur Tengah yang sempat memicu kenaikan harga plastik hingga hampir 60 persen.

Hal tersebut terjadi karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik dari kawasan Timur Tengah, meskipun saat ini harga mulai bergerak stabil setelah pasokan impor dialihkan dari Cina.

Pemuda berusia 25 tahun itu mengaku omzet kotor harian tokonya kini bergerak fluktuatif di kisaran Rp5 juta per hari dan cenderung semakin menurun pada hari libur.

Namun, Amar mengklaim bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah tidak terlalu berdampak ekstrem pada volume penjualan plastik karena tingkat ketergantungan masyarakat domestik terhadap komoditas plastik masih sangat tinggi.

Sementara itu, dinamika pasar keuangan mencatat mata uang rupiah menutup perdagangan pada hari Jumat dengan penguatan terbatas sebesar 0,07 persen di posisi Rp18.020 per dolar AS, setelah pada sesi pembukaan pagi sempat melemah 0,23 persen.

Kendati mengalami penguatan tipis, posisi rupiah yang belum mampu keluar dari zona Rp18.000 per dolar AS tersebut mengindikasikan masih besarnya tekanan eksternal terhadap mata uang Garuda.

Merespons kondisi tersebut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadapi tren pelemahan rupiah.

Prasetyo mengklaim pihak Istana terus menggelar rapat koordinasi secara intensif dengan otoritas fiskal, otoritas moneter, serta para pelaku ekonomi nasional.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh multisektor, di mana tingkat kemandirian ekonomi serta tingginya ketergantungan terhadap impor komoditas tertentu menjadi faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi kekuatan mata uang Indonesia di pasar global.

Hot Nows ionicons-v5-c