Mengintip Fundamental Bisnis ANTM, Mulai dari Emas hingga Ekosistem Baterai

Redaksi

ANTAM

Jakarta, URBVOX – Pertumbuhan kinerja Antam pada tahun ini diproyeksikan akan terus berlanjut, didorong oleh fondasi bisnis yang kokoh. Segmen emas, hilirisasi nikel, dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik menjadi tiga pilar utama yang menopang optimisme tersebut.

Melansir pemberitaan Bisnis.com, Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyampaikan bahwa dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, para pemegang saham telah memberikan persetujuan atas rencana Perseroan untuk menerima penugasan khusus dari pemerintah. Penugasan ini bertujuan mempercepat program hilirisasi nikel serta pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

Menurut Untung, penugasan tersebut mencakup pembangunan ekosistem baterai terintegrasi berbasis nikel dari hulu sampai hilir. Rantai nilai ini meliputi kegiatan pertambangan, pembangunan pabrik RKEF/RKSBF, fasilitas HPAL, refinery, prekursor, katoda, battery cell, hingga fasilitas battery recycling.

Dengan pengembangan ekosistem tersebut, imbuhnya, diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional, memperluas sumber pendapatan Antam sekaligus memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang perseroan, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Sejalan dengan agenda pembangunan nasional, Antam akan terus memperkuat pengembangan bisnis berbasis hilirisasi dan integrasi rantai nilai mineral. Melalui berbagai proyek strategis yang terintegrasi, Antam tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendukung penguatan kemandirian industri nasional serta posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global,” papar Untung dalam konferensi pers secara daring, Rabu (10/6/2026).

Penugasan tersebut akan dijalankan melalui kolaborasi Antam dengan PT Industri Baterai Indonesia (IBI) bersama HYD Investment Limited. Konsorsium tersebut terdiri dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk., yang berperan sebagai mitra strategis dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.

Ke depannya, kata Untung, Antam akan terus memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat tata kelola perusahaan, serta mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam strategi korporasi guna menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan daya saing jangka panjang.

Kinerja Gemilang Sepanjang 2025

Sebagai gambaran, emiten tambang emas pelat merah itu berhasil menutup tahun 2025 dengan catatan kinerja yang cemerlang. Untung bahkan menyebut tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Antam.

“Di tengah dinamika pasar global dan tantangan industri, Antam berhasil mencatatkan kinerja operasional dan keuangan terbaik sepanjang sejarah perseroan. Capaian ini mencerminkan kuatnya fundamental bisnis, efektivitas strategi yang dijalankan secara disiplin, serta komitmen seluruh insan Antam dalam mengoptimalkan potensi sumber daya mineral nasional untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Untung.

Pada 2025, segmen emas tetap menjadi penopang utama kinerja perseroan dengan kontribusi sekitar 79% dari total penjualan. Nilai penjualan emas Antam sepanjang 2025 mencapai Rp66,47 triliun, naik 15% secara tahunan, seiring dengan tingginya permintaan domestik terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.

Kendati demikian, volume penjualan emas tercatat sebesar 37.365 kg (37,4 ton), turun dari 2024 sebesar 43,8 ton karena adanya gangguan pasokan akibat force majeure di tambang Grasberg milik Freeport.

Sementara itu, segmen nikel menyumbang 18% terhadap total pendapatan dengan nilai Rp14,85 triliun, meningkat 56% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di sisi lain, produksi bijih nikel melonjak 62% menjadi 16,11 juta wet metric ton, dengan penjualan naik 75% menjadi 14,58 juta wet metric ton, menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Segmen bauksit dan alumina juga menunjukkan akselerasi, dengan penjualan naik 62% menjadi Rp2,92 triliun. Produksi bauksit melonjak 112% dan penjualannya naik 157%, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Laba Bersih Melonjak dan Dividen Rp5,04 Triliun

Dari sisi top line, Antam membukukan pendapatan sebesar Rp84,64 triliun pada 2025, meningkat 22% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun, tumbuh signifikan 106% dibandingkan dengan capaian 2024.

Pencapaian tersebut diraih di tengah tantangan global yang ditandai oleh volatilitas harga komoditas dan ketidakpastian makroekonomi. Kinerja positif Perseroan didukung oleh optimalisasi portofolio komoditas, peningkatan kinerja operasional, pengelolaan biaya yang efektif, serta penguatan eksekusi strategi bisnis yang terarah untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.

Sejalan dengan itu, Antam juga terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui pengembangan berbagai proyek hilirisasi dan integrasi rantai nilai mineral. Langkah tersebut sejalan dengan agenda pembangunan nasional, khususnya Asta Cita ke-5 yang berfokus pada hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri serta memperkuat daya saing industri nasional.

Sebagai bentuk komitmen dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, Antam akan membagikan dividen sebesar Rp5,04 triliun atau 70% dari laba bersih tahun buku 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Untung mengungkapkan bahwa keputusan pembagian dividen tersebut didukung oleh kinerja operasional dan keuangan ANTM yang mencatatkan pencapaian terbaik sepanjang sejarah perseroan. “Sementara itu, sebesar Rp2,16 triliun atau 30% ditetapkan sebagai saldo laba ditahan,” ujar Untung, Rabu (10/6/2026).

Dia menuturkan bahwa saldo laba ditahan tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha, penguatan fundamental bisnis, serta pelaksanaan berbagai proyek strategis perseroan ke depan.

Rekam Jejak Dividen yang Konsisten

Berdasarkan rekam jejaknya, Antam dikenal sebagai emiten yang loyal dalam membagikan laba kepada pemegang saham. Setidaknya sejak 2019, perusahaan tak pernah absen menebar dividen dengan rasio pembayaran yang cenderung menanjak.

Pada tahun buku 2019 dan 2020, emiten pertambangan logam pelat merah ini menetapkan dividend payout ratio (DPR) sebesar 35%. Rasio ini kemudian meningkat menjadi 50% untuk laba tahun buku 2021 dan 2022.

Puncaknya terjadi pada tahun buku 2023 dan 2024. Antam tercatat menyepakati rasio pembayaran dividen sebesar 100% dari total laba bersih.

Besaran dividen yang royal tersebut juga memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan negara melalui setoran ke MIND ID. Pada tahun buku lalu saja, Antam menyetorkan sekitar Rp2,36 triliun kepada induk holding tambang tersebut, sesuai dengan porsi kepemilikan saham MIND ID sebesar 65%.


Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. URBVOX tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Hot Nows ionicons-v5-c