Peran menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga di jalanan ternyata adalah peran berat yang harus dijalani oleh banyak perempuan Indonesia.
Mereka seolah dipaksa untuk tetap kuat mengaspal di jalanan meski sudah lelah dan tak punya banuak pilihan hingga akhirnya terpaksa membawa serta anak-anaknua menembus debu jalanan.
Dihantam realisat, ibu-ibu juga bisa kehabisan pilihan
Also Read
Menjalani peran ganda tak ayal adalah jalan melelahkan yang dijalani ibu di luar sana. Mereka harus menjalani dua kehidupan di satu waktu yang bersamaan.
Dari peran-peran itu, sebagian ibu tidak lagi memiliki kemewahan untuk sekedar menitipkan anaknya di tempat aman. Kalau ibu pekerja kantoran memiliki daycare atau pengasuh untuk menjaga anaknya, sebagian ibu-ibu ojol tak bisa mengambil jalan mewah itu.
Entah karena biaya yang tak ramah di kantong, atau memang tak ada lagi kerabat yang bisa diandalkan.
Kepasrahan itu akhirnya menjadikan banyak ibu terpaksa mengubah jok motornya dan juga ruang tunggu restoran cepat saji menjadi kantor sekaligus ruang bermain anak mereka.
Seperti yang terjadi pada seorang ibu yang menjadi driver online pengantar makanan yang fotonya diunggah oleh seorang pengguna threads. Di ntara pengemudi laki-laki yang juga sedang menunggu pesanan orderan, seorang ibu berjaket hijau kebesaran duduk diam. Di dadanya ada balita dalam gendongan kain, sementara si sebelahnya duduk satu lagi anaknya yang lebih besar menemani.
Dihantam realita ekonomi yang makin hari makin menyesakkan, ia harus menjalani peran secara komplit di ruang publik.
Tak lagi sempat masuk bursa kerja, narik ojol dah jadi pelarian terakhir
Jika mungkin sebagian orang yang kehilangan pekerjaan bisa melarikan diri dengan melamar ke perusahaan lain, ibu-ibu di usia tiga puluhan tidak punya keistimewaan itu.
Seperti yang dikatakan akun fandini*** di akun threadsnya, bisa mendapatkan pekerjaan sebegai driver ojek online di usia 30 tahun adalah sebuah jalan keluar dari peliknya kebutuhan hidup.
“Saya ibu ojol dan ngojol bawa anak. Kenapa masih bertahan di ojol karena hanya pekerjaan ini yang bisa menerima ibu seusia saya, mencari pekerjaan susah banget kalau umur sudah di atas 30 tahun,” tulis fandini***.
Senada dengan apa yang ia katakan, realitas di lapangan memang menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan sebagai kasir atau penjaga toko sering kali mematok batas maksimal 25 tahun bahkan mengutamakan yang belum menikah.
Fleksibilitas kerja yang sebenarnya adalah jebakan
Katanya, jadi ojol itu enak karena jam kerjanya fleksibel dan cocok buat ibu rumah tangga. Tapi mari kita berpijak pada realitas yang lebih dingin.
Kalau kita menengok riset Treviliana Eka Putri, Paska Darmawan, dan Richard Heeks yang berjudul What is fair? The experience of Indonesian gig workers (2023) tentang pekerja gig di Indonesia, terbukti bahwa keluhan ibu-ibu ojol ini bukan sekadar narasi sedih.
Riset itu menelanjangi fakta bahwa di balik layar aplikasi, pendapatan bersih para pekerja jalanan ini sering kali melorot di bawah standar upah minimum.
Demi menutupi kekurangan itu, mereka terpaksa menelan jam kerja yang sangat panjang dan tak masuk akal.
Yang paling kejam, karena mereka tidak punya status resmi sebagai “karyawan”, mereka tidak berhak atas jaring perlindungan sosial apa pun.
Tidak ada asuransi kesehatan dari tempat kerja, tidak ada cuti berbayar, apalagi tunjangan untuk penitipan anak.
Jadi, buat ibu yang bekerja sebagai driver ojek online, fleksibilitas itu cuma nama lain dari ketiadaan pilihan dan hilangnya jaminan masa depan.
Ketika rasa “nggak tega” justru merampas rezeki
Salah satu pengalaman yang membuat mereka sering merasa sedih justru datang dari pelanggan itu sendiri.
Banyak ibu ojol pernah berada dalam situasi ketika pelanggan membatalkan pesanan (di-cancel) hanya karena melihat driver-nya adalah perempuan yang membawa anak.
Momen yang seharusnya menjadi sumber rezeki harian, harus lenyap karena pelanggan merasa “nggak tega” atau takut pesanannya lama sampai.
Di titik itu, persoalannya bukan sekadar kehilangan satu pesanan. Tapi performa akun mereka yang ikut anjlok. Padahal, bensin sudah terlanjur dibakar untuk jalan menuju restoran.
Mereka harus membelah jalanan saat pelanggan membutuhkan makan siangnya. Mereka juga harus menahan kantuk anaknya agar tidak rewel. Tetapi sistem aplikasi seolah tidak mengenal jeda.
Situasi semacam ini memperlihatkan persoalan lain yang kerap luput ketika membicarakan nasib pekerja jalanan.
Ibu-ibu ojol ini sering diposisikan sebagai orang yang “Super Mom” atau ibu tangguh. Ia menjadi tempat anak-anaknya bergantung, tetapi jarang ditanya seberapa remuk punggungnya menahan beban seharian.
Di media sosial, percakapan terkait masalah ini juga banyak berseliweran. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa memanggil mereka “tangguh” terkadang hanya cara masyarakat agar merasa wajar melihat mereka berjuang berdarah-darah sendirian.
Berhenti membatalkan pesanan untuk membiarkan mereka “bernapas”
Dari pengalaman melelahkan menjadi ibu ojol tersebut, apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari kita adalah pengertian.
Pengertian yang dimaksud bukan sekadar memberi uang tip lebih. Pengertian adalah membiarkan pesanan itu tetap berjalan meski yang menjemputnya adalah seorang ibu dengan balita di dadanya.
Gagasan itu menjadi penting karena kehidupan kelas pekerja sering kali dipertaruhkan hanya dari satu orderan ke orderan lainnya. Memenuhi target harian, membeli susu, dan memastikan besok masih ada nasi di meja makan.
Keluh kesah mereka di media sosial kemudian diharapkan menjadi pengingat bagi siapa saja yang kebetulan menggunakan jasa mereka. Bukan untuk memelas, melainkan sebagai ruang untuk mengakui bahwa mereka tidak punya pilihan lain.
“Percaya deh, orang-orang yang di posisi saya itu jujur nggak ada pilihan lagi. Antara harus jaga anak dan cari nafkah. Cuma minta tolong, kalau dapat driver perempuan tolong jangan kalian cancel,” tulis Indi Yani.
Sebab mengakui keterpaksaan bukan berarti gagal menjadi ibu yang baik. Membawa anak bekerja juga bukan berarti mereka sengaja menyiksa darah dagingnya sendiri.
Justru, mungkin seseorang perlu berhenti sebentar untuk menyadari bahwa hidup memang sekeras itu bagi sebagian orang.
Mungkin, bagi sebagian ibu pengemudi ojol, kebahagiaan memang bukan sekadar pencapaian karier atau validasi di media sosial. Bahagia adalah ketika untuk pertama kalinya hari itu pesanan ayam goreng selesai diantar, dan mereka bisa membelikan anak sulungnya es teh manis sebagai imbalan telah duduk anteng menemani ibunya bekerja.



