Jakarta, URBVOX – Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan resmi ke Korea Utara pada Senin (8/6/2026), yang menjadi perjalanan luar negeri pertamanya tahun ini.
Kunjungan ini berlangsung di tengah kekhawatiran Beijing terhadap semakin eratnya kemitraan antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Melansir laporan Kompas.com, Xi memuji persahabatan yang tak tergoyahkan antara Beijing dan Pyongyang saat tiba di negara tetangganya tersebut.
Upaya Menjaga Pengaruh Strategis
Beijing memandang Korea Utara sebagai mitra strategis yang krusial namun sulit dikendalikan. Hubungan yang secara historis disebut “ditempa dalam darah” karena sejarah Perang Korea ini mulai dibayangi ketidakpercayaan dalam beberapa tahun terakhir.
Kunjungan Xi Jinping kali ini dinilai lebih sebagai upaya menjaga pengaruh China di Pyongyang agar tidak sepenuhnya bergeser ke arah Rusia.
China memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas di perbatasan tanpa harus terseret dalam krisis akibat ambisi nuklir Korea Utara.
Di sisi lain, Seoul menilai langkah Xi ini sebagai upaya memosisikan China sebagai mediator antara Korea Utara dan Amerika Serikat.
Sumber diplomatik Barat yang dikutip BBC menyebutkan bahwa China semakin waspada terhadap fakta bahwa Rusia kini menjadi kekuatan yang dominan dalam memengaruhi Kim Jong Un.
Dinamika Hubungan yang Sempat Mendingin
Tanda-tanda renggangnya hubungan kedua negara sempat terlihat pada Oktober 2024, di mana tidak ada peringatan besar-besaran untuk hari jadi ke-75 hubungan diplomatik mereka.
Selain itu, Duta Besar China dilaporkan tidak menghadiri perayaan hari pendirian Korea Utara pada bulan sebelumnya. Situasi ini berbanding terbalik dengan hubungan Pyongyang dan Moskwa yang kian hangat pasca-invasi Rusia ke Ukraina.
Korea Utara telah memperluas kerja sama militer dengan Rusia, termasuk penandatanganan pakta pertahanan bersama oleh Putin di Pyongyang pada 2024.
Mengutip investigasi BBC, sekitar 2.300 tentara Korea Utara dilaporkan tewas saat bertempur untuk Rusia melawan Ukraina.
Pyongyang juga dituduh memasok amunisi untuk mendukung perang Rusia dengan imbalan bantuan minyak, sebuah perkembangan yang membuat Beijing merasa tidak nyaman secara geopolitik.
Ketergantungan Ekonomi pada China
Meskipun Kim Jong Un terlihat semakin dekat dengan Rusia, Korea Utara tidak bisa sepenuhnya menjauh dari China karena faktor ketergantungan ekonomi.
China tetap menjadi sumber bantuan terbesar bagi negara tersebut. Ekspor China ke Korea Utara tercatat melonjak menjadi sekitar 2,3 miliar dollar AS pada tahun lalu, yang merupakan level tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Selain itu, layanan kereta penumpang antara Beijing dan Pyongyang telah kembali beroperasi awal tahun ini setelah terhenti selama enam tahun.
Analis menilai langkah ini adalah bagian dari upaya Beijing menarik kembali Korea Utara ke orbit pengaruhnya.
Bagi Kim Jong Un, menjaga hubungan dengan China merupakan pilihan pragmatis mengingat kebutuhan Rusia terhadap dukungan Korea Utara bisa berkurang jika perang di Ukraina berakhir.
Koordinasi Strategis Tanpa Isu Nuklir
Dalam pertemuan kali ini, Xi Jinping menyerukan koordinasi strategis yang lebih erat antara kedua negara. Namun, pernyataan publik China tetap berhati-hati dengan tidak menyebutkan secara langsung soal persenjataan nuklir Korea Utara.
Sejarah mencatat hubungan keduanya kerap mengalami gesekan, terutama sejak Kim Jong Un mempercepat program nuklirnya dan mengeksekusi Jang Song Thaek, sosok yang dipandang Beijing sebagai penyeimbang.
Saat ini, Korea Utara menjadi penyangga sekaligus beban bagi China. Keberadaan negara tersebut menjaga jarak fisik antara China dan pasukan Amerika Serikat di semenanjung, namun uji coba senjatanya terus mengguncang stabilitas kawasan yang menjadi perhatian utama Beijing.
Meskipun tidak sepenuhnya saling percaya, baik Beijing maupun Pyongyang menyadari bahwa mereka masih saling membutuhkan sebagai penyangga diplomatik dan ekonomi.


