Jakarta, URBVOX – Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata, Minggu (7/6/2026). Mengutip AFP, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan serangan itu sebagai peringatan setelah Israel menyerang pinggiran selatan Beirut.
Teheran mengancam akan melakukan serangan yang lebih luas jika agresi berulang terjadi, serta menegaskan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen juga harus menghentikan konflik paralel di Lebanon.
Peringatan IRGC Usai Israel Langgar “Garis Merah”
Kepala komando pusat militer Iran menyatakan Israel telah melanggar semua “garis merah” dengan serangan di Beirut dan menuntut agar menghentikan kampanyenya di Lebanon.
“Operasi malam ini adalah sebuah peringatan. Jika agresi semacam itu terulang, tanggapannya akan lebih luas dan akan mencakup semua target Zionis-AS di wilayah tersebut,” kata IRGC dikutip dari AFP pada Senin (8/6/2026).
Tak lama setelah serangan itu, Iran mengumumkan akan menutup wilayah udaranya di bagian barat negara itu, sementara negara tetangga Irak dan Suriah di dekatnya mengikuti langkah tersebut.
Sementara itu, ketua parlemen Iran dan kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pembicaraan dengan Washington menuduh AS telah memberikan “lampu hijau” untuk serangan Beirut. Menurutnya, aset AS dan Israel sekarang menjadi target yang sah.
Beberapa jam kemudian, militer Israel melaporkan setidaknya tiga gelombang rudal yang datang, dan mengatakan bahwa pertahanan udaranya mengidentifikasi dan mencegat ancaman.
Israel Bombardir Pusat Komando Hizbullah di Beirut
Pada Minggu, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan tentaranya telah menyerang pusat komando Hizbullah di distrik Dahiyeh, Beirut, sebagai tanggapan atas tembakan ke arah wilayah Israel.
Serangan itu menewaskan dua orang dan melukai 20 lainnya. Israel telah memperingatkan akan menyerang daerah tersebut jika Hizbullah menyerang Israel utara.
Hizbullah kemudian mengkonfirmasi telah meluncurkan rudal dan drone ke dua barak tentara Israel pada Minggu pagi.
Kebuntuan Negosiasi dan Konflik di Selat Hormuz
Penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei mengatakan negosiasi dengan AS berada dalam kebuntuan dan menyerukan Trump untuk memecahkan kebuntuan ini. Ia juga menyerukan pembebasan sekitar 24 miliar dolar AS aset Iran yang dibekukan.
Namun, Trump menegaskan dalam wawancara yang sama bahwa dia tidak akan mencairkan aset Iran sebelum mencapai kesepakatan awal dengan Teheran.
“Jika mereka berperilaku baik, jika mereka melakukan pekerjaan dengan baik, kita akan mulai berbicara,” katanya.
Washington mungkin berupaya menggunakan dana tersebut untuk membayar kerusakan yang disebabkan oleh serangan Iran terhadap sekutu-sekutu di Teluk, menurut sumber yang mengetahui pemikiran Menteri Keuangan Scott Bessent.
Sementara itu, Komando Pusat AS (Centcom) menuturkan mereka telah menghancurkan dua drone Iran yang mengancam lalu lintas maritim internasional di Selat Hormuz.
Pencegatan drone dan serangan sebelumnya terhadap situs radar Iran telah mendorong Teheran untuk menembakkan rentetan rudal ke sekutu AS, Bahrain dan Kuwait.


